10

Cara nentuin harga kreatif (edisi definitif dan saintifik)

“Halo gan, pemula nih hehe, kira – kira kalau gambarnya segini enaknya taro harga berapa ya? Takut kemahalan terus malah jadi kabur. 50k cukup kan ya?” – Seorang pemula di forum design Facebook yang tidak pede dengan harga dirinya.

Kayaknya topik ini udah dibahas seribu kali dari berbagai kalangan tapi ujung-ujungnya semua pada bercerai aja teorinya pas mau di implementasi. Alesannya karna rata – rata teorinya berdasarkan pengalaman – pengalaman anekdotal (dibaca: sotoy) yang berlakunya hanya bagi dia ato segelintir kaum minoritas lain. Kenyataannya adalah, mayoritas kreatif itu terdiri dari pemula yang baru mau masuk ke industri dan belum tau harus taro harga berapa biar bisa menyambung hidup seterusnya. Teori – teori yang sering dilempar antaranya:

  • Style. Style kamu ga banyak yg suka.
  • Skill. “Tergantung skill gan, kalo masih pemula sih mulai murah aja dulu”
  • Masih ga terkenal. Kalo belom minimal 10k followers di instagram taro harga mah 50k aja buat vektor.

Apakah ini semua benar? Ada bener-nya ada gaknya. Masalahnya dengan statement – statement di atas itu pada sporadis alias berantakan. Karena gak saling nyambung, jadi gak bisa bikin konklusi dari teori – teorinya.

Supaya nyusunnya bener

mulainya dari akarnya dulu. Layaknya berbagai hal, semua itu dimulai dari problem. Naro harga itu adalah sebuah solusi, jadi lo gak bisa langsung loncat ke solusi seblom ada problem. Kalo ngotot, tar jadinya Kaya LG yang bikin kulkas kalo diketok bisa transparan kacanya. Gak jelas banget anjir, kulkas coca cola kantin sekolah juga dari dulu transparan kacanya.

Problem: Hargs

Supply and demand

Pretty obvious, tapi semua harga di-dunia mengikuti hukum supply-demand, atau persediaan dan permintaan. Kenapa hal ini sangat berpengaruh? Let me give you an example.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *